SOPPENG, INDEKS.co.id — Turnamen Sepak Bola Piala Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Volume II resmi berakhir di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Senin (21/9/2026). Kabupaten Bone keluar sebagai juara setelah menaklukkan Sidrap melalui drama adu penalti.
Bone Beramal FC dan Sidrap United bermain imbang 1-1 hingga waktu normal berakhir. Pada babak adu penalti, Bone Beramal FC memastikan gelar juara setelah menang dengan skor 5-4.
Turnamen yang berlangsung sejak 29 Agustus hingga 21 September 2026 tersebut menjadi salah satu ajang kompetisi antardaerah yang diharapkan mampu menjadi wadah pembinaan sekaligus pencarian talenta sepak bola potensial dari berbagai wilayah di Sulsel.
Namun, di tengah euforia kompetisi, perjalanan Kabupaten Soppeng justru menjadi catatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Soppeng gagal meraih kemenangan dalam lima pertandingan yang dijalaninya. Berdasarkan hasil pertandingan yang disampaikan, Soppeng masing-masing kalah dari Makassar dengan skor 1-9, Sinjai 1-7, tim Sulsel 0-3, Wajo 2-5, dan Bone 0-3.
Catatan tersebut menunjukkan Soppeng tidak hanya gagal mengamankan kemenangan, tetapi juga harus menerima 27 gol dan hanya mampu mencetak empat gol dalam lima pertandingan.
Rangkaian hasil tersebut menjadi gambaran bahwa masih terdapat pekerjaan rumah cukup besar dalam pembinaan sepak bola di Kabupaten Soppeng, terutama menyangkut kualitas kompetisi, pembinaan pemain muda, serta kesiapan tim menghadapi turnamen antardaerah.
Selain daripada itu juga perlu adanya evaluasi pembinaan Sepak Bola Soppeng. Soppeng sebelumnya dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi melahirkan pemain-pemain sepak bola berbakat. Karena itu, hasil pada Piala Gubernur Sulsel 2026 patut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Evaluasi tidak semata-mata diarahkan kepada pemain. Aspek pembinaan usia dini, kompetisi lokal, kualitas pelatih, sistem seleksi pemain, program latihan, hingga manajemen organisasi sepak bola perlu menjadi bagian dari pembenahan.
Pemerintah daerah bersama jajaran PSSI di tingkat kabupaten juga dituntut membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan. Pembinaan tidak seharusnya baru dilakukan ketika sebuah turnamen akan digelar, tetapi harus berjalan secara konsisten dan terukur.
Kegagalan meraih kemenangan dalam lima laga tentu bukan alasan untuk menghakimi para pemain. Sebaliknya, hasil tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui akar persoalan dan menentukan langkah pembinaan berikutnya.
Piala Gubernur diharapkan lahirkan talenta baru, Piala Gubernur Sulsel sendiri diharapkan tidak sekadar menjadi kompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Turnamen tersebut juga menjadi ruang bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuka peluang masuk dalam radar pembinaan sepak bola Sulsel.
Para pemain yang tampil menonjol diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan sehingga memiliki kesempatan mengikuti proses seleksi dan pembinaan pada level yang lebih tinggi.
Sementara itu, kualitas pertandingan final turut mendapat perhatian panitia. Partai puncak antara Bone dan Sidrap dipimpin wasit yang memiliki pengalaman memimpin kompetisi level nasional.
Ketua Panitia Piala Gubernur Sulsel, Erwin Sodding, mengatakan penunjukan wasit berpengalaman dilakukan untuk menjaga kualitas dan netralitas pertandingan.
“Di laga final Piala Gubernur 2026 ini dipimpin wasit yang pernah memimpin Liga 1. Ada tiga orang wasit dari Liga (Super League),” kata Erwin kepada awak media, Senin (21/9/2026).
Final yang berlangsung di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, tersebut akhirnya menjadi milik Bone Beramal FC setelah melewati pertandingan ketat kontra Sidrap United.
Hasil final Piala Gubernur Sulsel 2026, Bone Beramal FC 1-1 Sidrap United sempat terjadi adu penalti dan Bone Beramal FC menang 5-4 di
Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare.
Bagi Soppeng, berakhirnya Piala Gubernur Sulsel 2026 semestinya tidak hanya menjadi penutup sebuah turnamen, tetapi juga titik awal untuk melakukan pembenahan.
Jika ingin kembali menjadi daerah yang diperhitungkan dalam persepakbolaan Sulsel, Soppeng membutuhkan program pembinaan yang terencana, kompetisi yang berjenjang, pencarian bakat yang konsisten, serta evaluasi organisasi dan prestasi secara berkala.
Sebab, sepak bola tidak dibangun hanya dengan mengandalkan nama besar masa lalu. Prestasi membutuhkan pembinaan yang serius, kompetisi yang sehat, dan proses panjang yang dilakukan secara konsisten serta pembenahan pada pengurus PSSI yang dinilai kurang mampu meningkatkan kualitas sepak bola di daerah ini. (Tim)
Editor/Publizher : Andi Jumawi
















