Ketika UMKM Berjuang Bertahan, Dapur Keluarga Terancam
Oleh: Andi Jumawi
Pemimpin Redaksi INDEKS.co.id
Ketua PWI Kabupaten Soppeng
Ada air mata yang tidak pernah tercatat dalam laporan keuangan negara. Ada kecemasan yang tidak muncul dalam grafik pertumbuhan ekonomi. Ada pula jeritan rakyat kecil yang nyaris tak terdengar di tengah riuhnya perdebatan tentang efisiensi anggaran.
Air mata seorang ibu yang kebingungan menentukan menu makan keluarganya esok hari. Kegelisahan seorang ayah yang pulang tanpa membawa penghasilan. Dan kecemasan seorang pedagang kecil yang sejak pagi membuka lapak, tetapi hingga petang hanya mampu mengumpulkan uang yang bahkan tidak cukup untuk mengganti modal dagangannya.
Mereka mungkin tidak memahami secara mendalam bagaimana anggaran negara disusun, bagaimana belanja pemerintah dipangkas, atau bagaimana target penghematan dihitung. Namun, mereka memahami satu hal yang jauh lebih nyata: uang semakin sulit dicari, kebutuhan hidup terus berjalan, dan masa depan keluarga semakin tidak pasti.
Di balik angka-angka anggaran negara, ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan kehidupannya.
Di balik istilah efisiensi yang terdengar rasional dan meyakinkan, ada keluarga yang harus menghitung ulang setiap rupiah, mengurangi lauk di meja makan, menunda kebutuhan pendidikan anak, bahkan berutang hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul.
Inilah sisi kemanusiaan yang tidak boleh hilang dari pembicaraan tentang efisiensi anggaran di Indonesia.
Sebab, negara memang perlu berhemat. Tetapi rakyat juga perlu hidup.
Efisiensi anggaran bukanlah sesuatu yang keliru. Negara membutuhkan pengelolaan keuangan yang disiplin, penggunaan uang publik yang bertanggung jawab, serta pengawasan ketat agar tidak ada anggaran yang terbuang percuma.
Pemborosan harus dipangkas. Program yang tidak memberikan manfaat perlu dievaluasi. Setiap rupiah uang rakyat semestinya digunakan untuk kepentingan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Namun, persoalan sesungguhnya bukan hanya seberapa besar anggaran yang berhasil dihemat, melainkan bagaimana penghematan itu dilakukan, ke mana anggaran dialihkan, manfaat apa yang dihasilkan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya.
Sebab, negara boleh menghitung anggaran dengan kalkulator, tetapi kehidupan rakyat tidak sesederhana angka di atas kertas.
Bagi pemerintah, pengurangan belanja mungkin tercatat sebagai keberhasilan mengendalikan pengeluaran. Namun, bagi seorang pedagang kecil, berkurangnya aktivitas ekonomi bisa berarti kehilangan pelanggan. Bagi pekerja harian, itu bisa berarti hilangnya kesempatan memperoleh upah. Bagi keluarga sederhana, keadaan tersebut dapat menentukan apakah kebutuhan pokok masih bisa terpenuhi hingga akhir bulan.
Di sinilah kebijakan ekonomi perlu diuji bukan hanya melalui laporan penghematan, tetapi juga melalui perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Jangan sampai angka-angka terlihat semakin efisien, sementara semakin banyak keluarga merasa hidupnya justru semakin sulit.
Bayangkan seorang pedagang gorengan yang setiap pagi bangun sebelum matahari terbit.
Dengan modal terbatas, ia membeli tepung, minyak goreng, dan bahan baku lainnya. Ia menyiapkan dagangan dengan harapan memperoleh keuntungan yang cukup untuk membeli beras, membayar listrik, memenuhi kebutuhan sekolah anak, dan menyisihkan sedikit uang untuk keperluan esok hari.
Baginya, setiap potong gorengan yang terjual memiliki arti. Setiap lembar uang yang masuk bukan sekadar keuntungan, melainkan bagian dari perjuangan menjaga keluarganya tetap bertahan.
Namun, keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Pembeli mulai mengurangi belanja. Orang yang biasanya membeli lima potong gorengan kini cukup dua. Pelanggan warung makan yang dahulu memesan nasi dan lauk lengkap mulai memilih menu paling murah. Sebagian orang bahkan membawa bekal dari rumah karena penghasilan mereka harus dibagi untuk kebutuhan yang semakin banyak.
Bukan karena mereka tidak ingin membeli, melainkan karena kemampuan belanja mereka terbatas.
Bagi pedagang kecil, perubahan yang tampak sederhana itu dapat menentukan apakah usaha masih bisa berjalan atau perlahan-lahan harus ditutup.
Keadaan serupa berpotensi dirasakan pemilik warung makan, pedagang pakaian, penjual kebutuhan pokok, pengusaha rumahan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada perputaran uang masyarakat.
Ketika penjualan menurun, modal semakin sulit berputar. Ketika modal tersendat, stok barang berkurang. Ketika biaya operasional tidak lagi tertutupi dan utang mulai menumpuk, ruang untuk bertahan semakin sempit.
Pada titik tertentu, seorang pengusaha kecil dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: terus bertahan dengan risiko kerugian yang semakin besar atau menutup usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.
Bagi sebagian orang, menutup toko mungkin hanya keputusan bisnis. Namun, bagi pemiliknya, itu bisa berarti kehilangan pendapatan, mengakhiri pekerjaan karyawan, dan meruntuhkan harapan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Tentu, tidak semua usaha yang tutup disebabkan oleh efisiensi anggaran. Persaingan, kenaikan biaya produksi, perubahan pola konsumsi, keterbatasan modal, dan perkembangan teknologi juga memengaruhi keberlangsungan usaha.
Namun, ketika daya beli melemah dan aktivitas ekonomi melambat, pelaku UMKM yang memiliki modal terbatas cenderung menghadapi risiko lebih besar. Mereka tidak memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk bertahan lama tanpa pemasukan.
Keuntungan hari ini digunakan membeli bahan baku esok hari. Pendapatan minggu ini dipakai membayar cicilan dan kebutuhan keluarga. Ketika penjualan berhenti beberapa hari saja, keseimbangan keuangan mereka dapat langsung terguncang.
Mereka tidak memiliki banyak ruang untuk melakukan kesalahan.
Kebijakan penghematan belanja pemerintah juga perlu dilihat dari kemungkinan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Pengurangan perjalanan dinas, kegiatan pertemuan, pengadaan, atau belanja operasional tertentu memang dapat menekan pengeluaran negara. Akan tetapi, apabila pengurangan dilakukan pada belanja yang sebelumnya menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, dampaknya berpotensi menjalar ke berbagai sektor.
Hotel bisa kehilangan pesanan. Rumah makan berkurang pelanggannya. Penyedia transportasi kehilangan perjalanan. Pengusaha perlengkapan kehilangan kontrak. Pekerja lepas kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan.
Satu transaksi yang hilang mungkin tampak kecil. Namun, ketika penurunan transaksi terjadi berulang kali dan melibatkan banyak pelaku usaha, dampaknya dapat terasa lebih luas.
Uang yang sebelumnya berputar dari satu usaha ke usaha lain bisa mengalami perlambatan.
Karena itu, penghematan anggaran tidak cukup dinilai dari besarnya belanja yang dipangkas. Pemerintah juga perlu menghitung manfaat yang diperoleh, biaya sosial yang mungkin timbul, serta pengaruhnya terhadap kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat.
Bukan berarti seluruh belanja pemerintah harus dipertahankan. Belanja yang tidak produktif memang perlu dikurangi. Namun, pengeluaran yang memberikan manfaat ekonomi luas, meningkatkan kualitas pelayanan publik, atau membantu masyarakat memperoleh penghasilan perlu dinilai secara cermat sebelum dipangkas.
Di sinilah pentingnya membedakan pemborosan dari belanja produktif.
Keduanya tidak selalu sama.
Perdebatan mengenai efisiensi anggaran juga harus ditempatkan dalam konteks kondisi ekonomi masyarakat secara lebih luas.
Data yang dicantumkan dalam bahan tulisan ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen, dengan rata-rata upah buruh Rp3,29 juta per bulan.
Sementara itu, angka kemiskinan Maret 2026 disebut sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang. Data Dewan Ekonomi Nasional yang dirujuk dalam tulisan ini juga mencatat 88.519 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja sepanjang 2025.
Angka-angka tersebut perlu dibaca secara proporsional. Pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga mengalami peningkatan kesejahteraan. Demikian pula, angka pengangguran dan PHK tidak otomatis membuktikan bahwa efisiensi anggaran menjadi penyebab tunggal tekanan ketenagakerjaan.
Namun, data tersebut mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama.
Pertumbuhan ekonomi dapat terlihat positif secara agregat, sementara sebagian keluarga masih menghadapi keterbatasan pendapatan. Aktivitas investasi dapat meningkat, tetapi peluang kerja yang layak belum tentu tersedia secara merata. Sektor tertentu dapat berkembang, sedangkan usaha kecil di daerah lain masih berjuang mempertahankan pelanggan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan semata-mata apakah ekonomi tumbuh, melainkan siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut dan sejauh mana manfaatnya menjangkau kelompok masyarakat yang paling rentan.
Apakah pertumbuhan itu memperluas kesempatan kerja? Apakah pendapatan masyarakat meningkat secara memadai? Apakah UMKM memperoleh peluang berkembang? Apakah keluarga berpenghasilan rendah semakin mudah memenuhi kebutuhan dasar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar keberhasilan ekonomi tidak berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Tekanan ekonomi bukan hanya persoalan berkurangnya uang di dalam dompet. Dalam banyak keadaan, tekanan itu dapat merembet ke kehidupan keluarga, kesehatan mental, hubungan sosial, dan rasa percaya diri seseorang.
Bayangkan seorang ayah yang kehilangan pekerjaan, sementara kebutuhan rumah tangga tidak pernah berhenti. Tagihan tetap datang. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Dapur tetap harus mengepul.
Ia mungkin tetap tersenyum ketika bertemu tetangga, tetapi menyimpan kegelisahan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga pada hari berikutnya.
Di sisi lain, seorang ibu yang menjalankan usaha kecil mungkin terus membuka warungnya meskipun pelanggan semakin sepi. Ia bertahan bukan karena usahanya masih memberikan keuntungan yang layak, melainkan karena tidak memiliki sumber penghasilan lain.
Kondisi ekonomi yang berkepanjangan dapat memperbesar tekanan hidup, mendorong sebagian keluarga menambah utang, dan meningkatkan risiko konflik rumah tangga.
Dalam kondisi tertentu, tekanan sosial ekonomi juga dapat menjadi salah satu faktor kerentanan terhadap tindakan melanggar hukum, termasuk penipuan bermotif ekonomi atau pencurian. Meski demikian, kemiskinan dan pengangguran tidak otomatis menyebabkan seseorang melakukan kejahatan. Tindakan kriminal dipengaruhi berbagai faktor dan hubungan sebab-akibatnya tidak boleh disimpulkan tanpa bukti yang memadai.
Justru karena persoalan ini kompleks, negara perlu mengambil langkah pencegahan yang menyeluruh.
Penegakan hukum tetap penting. Namun, menjaga keamanan masyarakat juga memerlukan penciptaan kesempatan kerja, pendidikan yang terjangkau, perlindungan sosial yang tepat sasaran, dan dukungan bagi usaha kecil.
Masyarakat yang memiliki kesempatan bekerja, memperoleh penghasilan layak, dan menatap masa depan dengan harapan akan mempunyai ruang lebih besar untuk membangun kehidupan yang stabil.
Menjaga ekonomi rakyat, dengan demikian, bukan hanya urusan perdagangan dan pertumbuhan. Ia juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan keluarga dan kehidupan sosial.
Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan bahwa uang negara dikelola secara efektif, transparan, dan akuntabel. Setiap pengeluaran harus memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat yang sepadan bagi masyarakat.
Namun, efisiensi yang sehat tidak semestinya hanya diukur dari berapa besar anggaran yang berhasil dipangkas.
Efisiensi seharusnya menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik, belanja yang lebih tepat sasaran, dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Jika penghematan justru mengurangi akses terhadap pelayanan dasar, mempersempit kesempatan kerja, atau menekan usaha kecil tanpa langkah perlindungan yang memadai, kebijakan tersebut patut dievaluasi secara terbuka.
Evaluasi bukan berarti menolak efisiensi. Sebaliknya, evaluasi merupakan bagian dari tata kelola yang bertanggung jawab.
Pemerintah perlu memastikan bahwa pengurangan belanja tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat, kualitas pendidikan dan kesehatan, dukungan terhadap UMKM, serta program perlindungan bagi kelompok rentan.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu mengidentifikasi sektor usaha yang mengalami penurunan aktivitas, memperluas akses pembiayaan yang sehat, membantu UMKM memperbaiki pemasaran, dan membuka peluang pengadaan yang adil bagi usaha lokal sesuai ketentuan.
Dukungan tersebut tidak harus selalu berupa bantuan tunai. Pemerintah dapat memperkuat pendampingan usaha, memperluas akses pasar, membantu digitalisasi, meningkatkan keterampilan pekerja, dan memastikan pelaku usaha kecil memperoleh informasi yang memadai mengenai peluang ekonomi.
Yang terpenting, kebijakan tidak berhenti pada pengumuman program, tetapi disertai pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi yang dapat diukur.
Masyarakat juga berhak mengetahui berapa besar penghematan yang diperoleh, program apa yang dikurangi, ke mana anggaran dialihkan, dan manfaat apa yang dihasilkan bagi kehidupan mereka.
Transparansi bukan ancaman bagi pemerintah. Transparansi merupakan fondasi kepercayaan publik.
Rakyat berhak menilai apakah pengorbanan yang diminta dari mereka sebanding dengan manfaat yang dijanjikan oleh kebijakan negara.
Cobalah melihat persoalan ini dari sudut pandang seorang pedagang kecil yang setiap malam menghitung sisa uang di laci warungnya.
Ia menghitung berapa rupiah yang bisa digunakan untuk membeli bahan baku esok hari. Ia memisahkan uang untuk kebutuhan rumah tangga. Ia memikirkan cicilan yang belum dibayar dan biaya sekolah anak yang segera jatuh tempo.
Kadang-kadang, setelah seluruh hitungan selesai, uang yang tersisa nyaris tidak ada.
Namun, keesokan paginya ia tetap membuka warung.
Bukan karena ia tidak lelah. Bukan pula karena ia tidak pernah ingin menyerah. Ia bertahan karena ada keluarga yang bergantung kepadanya dan ada harapan yang belum ingin ia lepaskan.
Lihat pula seorang ibu yang terus berusaha menyajikan makanan bagi anak-anaknya, meskipun harus mengurangi lauk dan menunda kebutuhan pribadinya. Ia mungkin tidak pernah berbicara tentang kebijakan fiskal, tetapi dampak kebijakan ekonomi dapat terasa langsung dalam keputusan sehari-hari yang harus diambilnya.
Mereka tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin bekerja dengan layak, memperoleh penghasilan yang cukup, menyekolahkan anak-anaknya, mendapatkan pelayanan kesehatan ketika dibutuhkan, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dihantui kecemasan tentang hari esok.
Bagi mereka, kesejahteraan bukan istilah dalam pidato atau angka dalam laporan pembangunan.
Kesejahteraan adalah beras yang tersedia di dapur, uang sekolah yang terbayar, obat yang dapat dibeli ketika anak sakit, dan kepastian bahwa esok masih ada kesempatan untuk mencari nafkah.
Karena itu, setiap kebijakan ekonomi sepatutnya diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah kebijakan tersebut membantu masyarakat membangun kehidupan yang lebih baik, atau justru mempersempit ruang mereka untuk bertahan?
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menolak perubahan. Ini adalah pengingat bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya harus kembali kepada tujuan dasarnya: meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia membutuhkan pemerintahan yang hemat, bersih, disiplin, dan bertanggung jawab. Pada saat yang sama, Indonesia juga membutuhkan kebijakan yang peka terhadap kesulitan masyarakat.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Negara dapat mengurangi pemborosan tanpa mematikan usaha kecil. Negara dapat memperbaiki tata kelola anggaran tanpa mengabaikan pelayanan publik. Negara dapat mengalihkan belanja ke program yang lebih produktif sembari memastikan keluarga rentan tidak dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian.
Kuncinya terletak pada ketepatan menentukan prioritas, kecermatan membaca dampak, dan kesediaan mengevaluasi kebijakan berdasarkan kenyataan di lapangan.
Jangan sampai penghematan anggaran menjadi kebanggaan di atas kertas, sementara di luar gedung pemerintahan, semakin banyak keluarga harus mengencangkan ikat pinggang.
Jangan sampai pembangunan terlihat megah dalam laporan, tetapi sebagian rakyat kecil kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan paling mendasar.
Dan jangan sampai suara pedagang kecil, pekerja harian, buruh, serta keluarga yang sedang berjuang menyambung hidup tenggelam di tengah riuhnya perdebatan tentang angka dan target.
Sebab, ukuran keberhasilan pemerintahan bukan semata-mata seberapa besar anggaran yang dapat dihemat. Ukuran itu juga terletak pada seberapa baik uang negara digunakan untuk melindungi kehidupan, membuka kesempatan, memperkuat ekonomi rakyat, dan menghadirkan keadilan.
Pada akhirnya, negara tidak boleh hanya hadir sebagai pengatur angka. Negara harus hadir sebagai penjaga harapan.
Efisiensi semestinya menjadi jalan menuju kesejahteraan, bukan alasan untuk mengabaikan kesulitan yang dihadapi masyarakat.
Sebab, di balik setiap rupiah yang dihemat, ada pertanyaan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan: apakah penghematan itu benar-benar menghadirkan manfaat bagi rakyat, dan apakah manfaat tersebut dirasakan hingga ke keluarga yang paling membutuhkan?
Pertanyaan itulah yang seharusnya menyertai setiap keputusan tentang anggaran negara.
Sebab, bagi seorang ibu, keberhasilan kebijakan bukanlah seberapa indah angka yang diumumkan, melainkan apakah ia masih mampu menyediakan makanan bagi anak-anaknya.
Bagi seorang ayah, keberhasilan pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan kesempatan untuk bekerja dan membawa pulang penghasilan yang layak.
Dan bagi seorang pedagang kecil, keberhasilan pemerintah bukan hanya tentang penghematan, melainkan apakah usahanya masih memiliki pelanggan, modalnya masih bisa berputar, dan keluarganya masih mempunyai harapan untuk hidup lebih baik.
Negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu menghemat anggarannya, tetapi juga negara yang mampu menjaga martabat, melindungi penghidupan, dan memastikan rakyatnya tidak kehilangan harapan.
Sebab, jangan sampai di balik keberhasilan menghemat anggaran, ada terlalu banyak air mata yang luput dari perhatian.
Jangan sampai negara merasa telah berhasil mengencangkan ikat pinggang, sementara rakyat kecil justru semakin kesulitan mengisi piring di meja makan.
Karena pada akhirnya, efisiensi yang sesungguhnya bukan sekadar tentang berapa banyak uang yang berhasil disimpan negara, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan rakyat dari setiap rupiah yang dikelola.
Tulisan ini adalah hasil investigasi saya selama ini dimana isi dari tulisan ini hampir 100 persen adalah kejadian yang saya lihat dan perhatikan di Negeri ini yang sempat saya kunjungi.
Watansoppeng, Sabtu 24 Oktober 2026
















