JAKARTANasional

Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, DPR Dorong Presiden Lakukan Diplomasi Langsung

153
×

Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, DPR Dorong Presiden Lakukan Diplomasi Langsung

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin menyoroti dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz. Dia mendorong Presiden Prabowo Subianto turun langsung dalam upaya diplomasi dengan pemerintah Iran. Foto: Dok Sindonews
Listen to this article

JAKARTA (INDEKS) — Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk turun langsung melakukan diplomasi dengan pemerintah Iran menyusul tertahannya dua kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz.

Menurut Syafruddin, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memanas membutuhkan komunikasi tingkat tinggi antar kepala negara, bukan sekadar penanganan melalui jalur teknis kementerian.

BACA JUGA :

“Saya kira masalah tertahannya kapal Pertamina memerlukan lobi langsung dari Presiden. Tidak cukup hanya menteri ESDM, Menteri Luar Negeri, atau pejabat di bawahnya,” kata Syafruddin di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Ia mengapresiasi langkah diplomasi yang telah dilakukan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri, namun menilai upaya tersebut perlu ditingkatkan ke level strategis agar hasilnya lebih cepat dan efektif.

“Upaya Kemlu dan jajaran sudah tepat, tetapi ini menyangkut jalur energi global dan keselamatan aset negara. Presiden perlu turun langsung agar memiliki daya tekan diplomatik yang lebih kuat,” ujarnya.

Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

BACA JUGA :

Syafruddin menambahkan, keterlibatan langsung Presiden dapat memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk Iran. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan multilateral di tengah meningkatnya konflik di kawasan tersebut.

Di sisi lain, ia menilai peristiwa ini harus menjadi momentum untuk mempercepat strategi diversifikasi pasokan energi nasional agar tidak bergantung pada jalur yang rawan konflik.

“Ini bukan hanya soal kapal, tetapi bagaimana negara hadir melindungi aset strategis dan warganya di tengah dinamika konflik global. Presiden perlu menunjukkan kepemimpinan langsung dalam situasi seperti ini,” katanya.

Hingga kini, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran terus melakukan diplomasi intensif guna memastikan keselamatan kapal beserta awaknya.(Tim)

Redaksi/Publizher : Andi Jumawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!