DaerahMAKASSAR

Nurmal Idrus Bedah Formasi Inti IAS di Golkar Sulsel: Tiga Nama, Tiga Kekuatan

90
×

Nurmal Idrus Bedah Formasi Inti IAS di Golkar Sulsel: Tiga Nama, Tiga Kekuatan

Sebarkan artikel ini
Listen to this article

Minggu 6 September 2026

Makassar, INDEKS.co.id, Penyusunan kepengurusan baru DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan mulai memasuki tahap penting. Di bawah kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin (IAS), sejumlah figur mulai mengemuka untuk mengisi posisi strategis dalam struktur partai.

Tiga nama yang mendapat sorotan adalah Supriansa, Rahman Pina, dan Amirullah Nur Saenong.

Supriansa diproyeksikan sebagai Ketua Harian, Rahman Pina sebagai Sekretaris, sementara Amirullah Nur Saenong disebut mengisi posisi Bendahara.

Informasi mengenai struktur baru Golkar Sulsel sebelumnya juga menyebut IAS mengakomodasi ratusan pengurus dari beragam latar belakang politik dan organisasi. Supriansa disebut siap menerima penugasan partai.

Direktur Nurani Strategic, Dr. Nurmal Idrus, melihat formasi tersebut memiliki alasan politik dan organisasi yang cukup kuat.

Menurutnya, tiga figur itu tidak harus dipandang sebagai sekadar pembagian jabatan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda yang dapat menopang kepemimpinan IAS.

“Saya kira itu komposisi terbaik. Ketiganya memiliki karakter dan kapasitas yang saling melengkapi,” kata Nurmal.

Nurmal menilai Supriansa memiliki modal politik dan jaringan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi Ketua Harian.

Posisi tersebut, menurut dia, akan menjadi penting dalam kondisi Golkar Sulsel yang sedang melakukan konsolidasi setelah dinamika internal partai.

“Supriansa bisa memback up IAS dalam membingkai kepengurusan Golkar Sulsel yang masih terserak,” ujarnya.

Ia menegaskan, Ketua Harian harus memiliki kemampuan untuk bergerak dan memastikan roda organisasi tetap berjalan.

“Ketua harian bukan sekadar posisi administratif, tetapi harus mampu menjadi penggerak organisasi ketika ketua berada pada ruang-ruang politik yang lebih luas,” katanya.

Dengan posisi tersebut, Supriansa dinilai dapat menjadi salah satu tangan kanan IAS dalam menjaga komunikasi dan konsolidasi internal.

Berbeda dengan Ketua Harian, Sekretaris memiliki fungsi yang lebih dekat dengan kerja organisasi sehari-hari.

Untuk posisi ini, Nurmal menilai Rahman Pina memiliki modal pengalaman yang memadai. Selain pengalaman di struktur politik, Rahman Pina juga memiliki pengalaman sebagai pimpinan DPRD.

“Rahman Pina punya pengalaman sebagai sekretaris dan juga pengalaman sebagai pimpinan DPRD,” kata Nurmal.

Menurutnya, pengalaman tersebut penting karena sekretaris harus mampu memastikan arah politik pimpinan diterjemahkan menjadi kerja nyata organisasi.

“Sekretaris harus mampu menerjemahkan keputusan politik ketua menjadi kerja organisasi yang konkret,” ujarnya.

Dengan demikian, Rahman Pina dipandang berpotensi menjadi penghubung antara keputusan IAS dengan kerja kepartaian di lapangan.

Sementara itu, Amirullah Nur Saenong dinilai memiliki fungsi berbeda sebagai Bendahara.

Nurmal melihat posisi bendahara bukan sekadar mengurus administrasi keuangan. Dalam organisasi politik dengan struktur besar, pengelolaan finansial menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan agenda partai berjalan.

“Amirullah Nur akan menjadi salah satu penopang finansial kepengurusan yang solid,” jelasnya.

Ia menilai tata kelola keuangan harus dilakukan secara kuat dan transparan.

“Organisasi sebesar Golkar Sulsel tentu membutuhkan kemampuan pengelolaan keuangan yang kuat, transparan dan mampu menopang seluruh agenda organisasi,” katanya.

Nurmal menilai, apabila ketiga nama tersebut benar-benar menjadi bagian dari KSB, IAS telah memiliki fondasi awal yang cukup kuat.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan berada pada tiga posisi tersebut.

Pekerjaan berat justru terletak pada bagaimana IAS menyusun ratusan nama dalam struktur kepengurusan tanpa menimbulkan kembali sekat-sekat lama.

“Kalau tiga nama ini benar-benar masuk dalam posisi KSB, IAS sudah memiliki mesin awal yang cukup kuat. Tinggal bagaimana komposisi di bawahnya disusun agar mampu mengakomodasi seluruh kekuatan yang ada di Golkar Sulsel,” ujarnya.

Hal ini menjadi penting karena kepengurusan baru disebut mengakomodasi figur dari berbagai latar belakang politik, termasuk mantan politisi dari sejumlah partai.

Nurmal menilai kemampuan meramu seluruh kekuatan tersebut akan menjadi ukuran awal keberhasilan IAS.

“Golkar Sulsel tidak kekurangan orang hebat. Tantangannya adalah bagaimana orang-orang hebat itu bisa ditempatkan dalam satu orkestrasi yang sama,” tegasnya.

Menurut dia, empat posisi inti harus mampu menjadi simpul pemersatu seluruh kelompok.

“Ketua, ketua harian, sekretaris dan bendahara harus menjadi simpul yang mampu mengikat seluruh kelompok,” pungkasnya.

Dengan formasi inti yang mulai terbaca, pertarungan IAS berikutnya bukan lagi sekadar menentukan siapa yang mendapat posisi strategis.

Tantangan sebenarnya adalah memastikan seluruh figur yang masuk dalam struktur baru mampu bekerja dalam satu komando dan mengubah kepengurusan Golkar Sulsel menjadi mesin politik yang efektif.(Tim).

Publizher : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!