KAB.SOPPENGNasional

81 Tahun Indonesia Merdeka, Sudahkah Rakyat Benar-Benar Merasakan Kemerdekaan?

57
×

81 Tahun Indonesia Merdeka, Sudahkah Rakyat Benar-Benar Merasakan Kemerdekaan?

Sebarkan artikel ini
Listen to this article

Refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia 2026

Oleh : Andi Jumawi
Ketua PWI Kab.Soppeng, Sulawesi Selatan

INDONESIA EKSPRESS ( INDEKS.co.id ) — Merah putih kembali berkibar. Lagu Indonesia Raya kembali dinyanyikan. Upacara digelar di berbagai daerah. Pidato tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia kembali terdengar.

Namun di tengah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan:

Sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh rakyat?•

Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti rakyat bisa hidup tenang, bekerja dengan layak, mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang baik, serta memperoleh keadilan.

Tetapi hari ini, masih ada rakyat yang harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada orang tua yang khawatir dengan biaya sekolah anaknya. Ada pekerja yang berjuang mempertahankan penghasilan. Ada petani dan nelayan yang bekerja keras, tetapi belum selalu menikmati hasil yang sepadan.

Di tengah keadaan itu, negara harus hadir. Bukan hanya melalui pidato. Bukan hanya melalui seremoni. Tetapi melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Ketika Jabatan Menjadi Rebutan, Jabatan adalah amanah. Namun masyarakat sering melihat bagaimana posisi dan jabatan menjadi sesuatu yang diperebutkan. Padahal di balik jabatan terdapat gaji, tunjangan, kendaraan, rumah dinas, perjalanan dinas, serta berbagai fasilitas lainnya. Semua itu boleh diterima sepanjang sesuai aturan dan digunakan untuk menjalankan tugas.

Tetapi jangan sampai fasilitas negara membuat seorang pejabat lupa bahwa semua itu berasal dari uang rakyat. Semakin besar fasilitas yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab kepada rakyat.

Rakyat tidak iri kepada pejabat yang mendapatkan haknya. Rakyat hanya berharap pejabat tidak menikmati fasilitas negara secara berlebihan ketika masih banyak masyarakat yang hidup dalam kesulitan.

Korupsi Adalah Pengkhianatan, Korupsi masih menjadi luka bangsa ini. Ketika uang negara disalahgunakan, yang dirugikan bukan hanya pemerintah.

Yang dirugikan adalah rakyat. Ada jalan yang seharusnya diperbaiki. Ada sekolah yang seharusnya dibangun. Ada pelayanan kesehatan yang seharusnya ditingkatkan. Ada masyarakat miskin yang seharusnya mendapatkan bantuan.

Uang yang dikorupsi mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam sebuah perkara. Tetapi bagi rakyat, dampaknya bisa berarti hilangnya kesempatan untuk hidup lebih baik.

Karena itu, korupsi bukan sekadar kejahatan terhadap keuangan negara. Korupsi adalah kejahatan terhadap harapan rakyat.

Jangan Sampai Kita Terbiasa. Yang paling berbahaya bukan hanya ketika korupsi terjadi. Yang lebih berbahaya ketika masyarakat mulai menganggapnya biasa.

Ketika jabatan dianggap sebagai jalan menuju kekayaan. Ketika kedekatan dengan kekuasaan dianggap lebih penting daripada kemampuan. Ketika kemewahan pejabat dianggap sebagai hal yang wajar.

Jika itu terus terjadi, yang rusak bukan hanya pemerintahan. Yang perlahan rusak adalah rasa malu, kejujuran, dan kepercayaan masyarakat kepada negara.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang mau menjaga amanah. Indonesia tidak kekurangan aturan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menegakkannya.

Kemerdekaan Harus Dirasakan. Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi waktu untuk bercermin. Bukan hanya bertanya berapa banyak pembangunan yang telah dilakukan.

Tetapi bertanya:
Apakah rakyat semakin sejahtera?
Apakah anak-anak Indonesia semakin mudah mendapatkan pendidikan?Apakah pelayanan kesehatan semakin baik?
Apakah hukum semakin adil?
Apakah korupsi semakin berkurang?

Dan yang paling penting:
Apakah rakyat masih percaya bahwa negara bekerja untuk mereka?

Sebab kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan dengan upacara dan bendera. Kemerdekaan harus terasa di rumah-rumah rakyat. Terasa di meja makan. Terasa di sekolah. Terasa di rumah sakit. Terasa di sawah, di laut, di pasar, dan di tempat kerja.

81 Tahun Merdeka, Saatnya Kembali kepada Rakyat. Kemerdekaan diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa bukan agar segelintir orang menikmati kekuasaan. Kemerdekaan diperjuangkan agar seluruh rakyat Indonesia dapat hidup bebas, adil, dan bermartabat.

Karena itu, perjuangan belum selesai. Hari ini kita tidak lagi melawan penjajah dengan senjata. Kita melawan kemiskinan. Kita melawan ketidakadilan. Kita melawan korupsi. Kita melawan keserakahan. Dan kita melawan sikap merasa berkuasa atas rakyat.

Para pejabat tidak harus hidup sengsara. Tetapi mereka harus ingat dari mana kekuasaan dan fasilitas itu berasal. Jabatan bukan milik pribadi. Kekuasaan bukan warisan. Fasilitas negara bukan hadiah. Semuanya adalah amanah.

Pada akhirnya, rakyat tidak akan mengingat seorang pejabat hanya karena jabatan yang pernah didudukinya. Rakyat akan mengingat apakah ketika berkuasa, ia benar-benar hadir untuk rakyat.

Itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga merah putih tidak hanya berkibar di langit Indonesia, tetapi juga hidup dalam hati setiap pemimpin dan seluruh rakyat.

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka adalah ketika rakyat dapat hidup dengan tenang, adil, sejahtera, dan bermartabat di negeri sendiri.

SOPPENG, SULSEL, 16 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!