Jum’at 28 Agustus 2026
MOROWALI, INDEKS.co.id — Jauh dari hiruk-pikuk daratan, di tengah laut kawasan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, seorang ayah bernama Yasan terus berjuang mempertahankan hidup keluarganya.
Tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Belasan tahun Yasan hidup dalam kondisi sakit. Untuk berjalan, ia harus bertumpu pada tongkat.
Namun keterbatasan fisik itu tidak membuatnya berhenti mencari nafkah.
Warga Desa Ulunipa, Kecamatan Menui Kepulauan, itu sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil laut. Laut menjadi tempatnya mencari rezeki sekaligus ruang perjuangan yang harus dijalani jauh dari istri dan anaknya.
Di kalangan masyarakat Menui, kawasan tempat para nelayan bertahan dan mencari hasil laut itu dikenal sebagai Manaha.
Di sana, Yasan bersama nelayan lainnya tinggal di sebuah gubuk sederhana. Mereka tidak setiap hari kembali ke rumah di Desa Ulunipa. Kepulangan biasanya dilakukan ketika ada acara keluarga, hari besar, atau kebutuhan mendesak.
Hari-hari Yasan dihabiskan di tengah laut. Menghadapi gelombang, angin dan perubahan cuaca menjadi bagian dari rutinitasnya.
Semua itu dijalani bukan karena mudah, melainkan karena ada keluarga yang harus ia hidupi.
Di rumah, ada seorang istri yang setia mendampinginya. Ada pula seorang putri semata wayang yang kini masih duduk di bangku SMA.
Bagi Yasan, menjadi seorang ayah berarti terus berusaha, meski keadaan tidak selalu berpihak.
Dengan tongkat di tangan, ia tetap melaut. Dengan tubuh yang terbatas, ia tetap mencari penghasilan. Harapannya sederhana: kebutuhan keluarga terpenuhi dan anaknya dapat menyelesaikan pendidikan.
Namanya Sempat Didata, tetapi Hilang Saat Bantuan Disalurkan
Perjuangan Yasan kemudian bersinggungan dengan program bantuan pemerintah bagi nelayan yang terdampak kondisi pancaroba.
Yasan sebelumnya telah didata sebagai salah satu calon penerima bantuan. Namanya bersama sejumlah nelayan lainnya disebut telah dihimpun dan dikirim ke tingkat Kabupaten Morowali.
Pendataan itu sempat menghadirkan harapan.
Bagi keluarga Yasan, bantuan tersebut tentu bukan sekadar angka atau paket bantuan. Ada kebutuhan melaut yang bisa terbantu, kebutuhan rumah tangga yang dapat diringankan, hingga biaya pendidikan anak yang bisa sedikit terbantu.
Namun ketika penyerahan bantuan berlangsung, nama Yasan justru tidak ditemukan dalam daftar penerima.
Nama yang sebelumnya masuk dalam pendataan itu tidak muncul ketika bantuan disalurkan.
Persoalan ini menyisakan tanda tanya.
Apakah terjadi kekeliruan administrasi? Apakah ada perubahan atau verifikasi ulang data penerima? Atau terdapat ketentuan lain yang membuat nama Yasan akhirnya tidak masuk dalam daftar penerima?
Belum ada kesimpulan mengenai penyebabnya.
Karena itu, persoalan tersebut penting mendapat penjelasan dari pihak terkait agar tidak menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Bagi Yasan, Bantuan Itu Bukan Sekadar Bantuan
Bagi sebagian orang, sebuah bantuan mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi nelayan kecil seperti Yasan, bantuan dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.
Bantuan bisa berarti kesempatan untuk tetap melaut. Bisa menjadi penopang kebutuhan keluarga. Bahkan bisa membantu seorang ayah memastikan anaknya tetap bersekolah.
Kisah Yasan pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang nelayan yang hidup dalam keterbatasan.
Ini adalah cerita tentang orang-orang yang kehidupannya berada jauh dari pusat pemerintahan dan keramaian. Mereka bekerja dalam diam, bertahan di tengah laut, dan menghadapi risiko setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Yasan hanyalah satu nama.
Sangat mungkin masih ada nelayan lain dengan kisah serupa yang belum terdengar.
Karena itu, persoalan hilangnya nama Yasan dari daftar penerima bantuan layak mendapat perhatian dan penjelasan.
Bukan untuk menyalahkan pihak tertentu.
Melainkan memastikan bahwa proses pendataan dan penyaluran bantuan benar-benar berjalan sesuai ketentuan, transparan dan tepat sasaran.
Jika memang terdapat kekeliruan dalam pendataan, semoga dapat segera diperiksa dan diperbaiki.
Jika Yasan memenuhi persyaratan sebagai penerima bantuan, tentu haknya patut diperjuangkan agar tidak hilang begitu saja.
Sebab di balik nama seorang nelayan, ada keluarga yang sedang menunggu.
Di balik seorang ayah yang berjalan dengan tongkat, ada seorang anak yang sedang mengejar masa depan.
Dan di balik sebuah gubuk sederhana di tengah laut Manaha, ada keluarga yang setiap hari berjuang agar tetap bertahan.
Semoga suara kecil dari tengah laut itu akhirnya sampai ke daratan.(Tim)
Editor/Publizher : Andi Jumawi
















