Rabu 14 Oktober 2026
SOPPENG, INDEKS.co.id — Musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, sejak Mei 2026 mulai berdampak pada kondisi pepohonan penghijauan. Sejumlah pohon di kawasan perkantoran pemerintahan, termasuk di sekitar Kantor Bupati Soppeng, tampak layu, bahkan sebagian dilaporkan mati akibat minimnya pasokan air.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pohon-pohon yang selama ini menghiasi kawasan perkotaan telah tumbuh selama bertahun-tahun. Selain mengurangi keasrian lingkungan, kematian pohon juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan apabila batang atau rantingnya tumbang.
Berdasarkan pantauan awak media INDEKS.co.id di sejumlah titik di Kota Soppeng, banyak tanaman penghijauan di kawasan perkantoran dan pekarangan rumah warga terlihat terdampak kekeringan. Secara visual, dampaknya diperkirakan cukup luas, meski persentase kerusakan tersebut masih memerlukan pendataan lebih lanjut oleh instansi terkait.
Di tengah kondisi tersebut, terdapat tanaman yang terlihat tetap tumbuh subur dan bahkan menghasilkan buah, yakni pohon mangga. Sejumlah pohon mangga di pekarangan warga masih tampak hijau, dengan sebagian di antaranya berbuah lebat meskipun cuaca kering berlangsung cukup lama.
Kondisi ini memunculkan gagasan untuk menjadikan pohon mangga sebagai salah satu alternatif tanaman penghijauan di Kota Soppeng dan wilayah sekitarnya.
Selain memberikan keteduhan, pohon mangga berpotensi menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Buahnya dapat dikonsumsi sendiri atau dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga. Jika dikembangkan secara terencana, budidaya mangga juga berpeluang menjadi salah satu komoditas buah unggulan daerah.
Pemerintah Kabupaten Soppeng diharapkan dapat mempertimbangkan program penghijauan produktif melalui penyediaan bibit mangga secara gratis bagi masyarakat, khususnya untuk ditanam di pekarangan rumah dan lokasi yang sesuai.
Program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas ruang hijau sekaligus mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, pemilihan jenis mangga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, ketersediaan air, karakteristik lokasi, serta kebutuhan perawatan tanaman.
Pengembangan pohon mangga sebagai tanaman penghijauan juga memerlukan perencanaan yang matang. Penempatan pohon harus memperhatikan jarak dari jalan, bangunan, jaringan listrik, dan fasilitas umum agar pertumbuhannya tidak menimbulkan gangguan di kemudian hari.
Pemangkasan berkala serta pemantauan kesehatan pohon juga penting dilakukan, terutama terhadap pohon yang tumbuh besar di tepi jalan atau kawasan padat aktivitas masyarakat.
Di tengah ancaman cuaca panas dan kekeringan, keberadaan pepohonan yang terawat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kenyamanan lingkungan. Kanopi pohon dapat memberikan keteduhan dan membantu mengurangi paparan panas matahari di kawasan perkotaan.
Karena itu, penghijauan tidak semestinya hanya berorientasi pada penanaman, tetapi juga harus disertai pemeliharaan berkelanjutan agar tanaman mampu bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gagasan menjadikan mangga sebagai tanaman penghijauan produktif patut dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif. Dengan dukungan pemerintah daerah, partisipasi masyarakat, dan pemilihan lokasi yang tepat, penghijauan di Soppeng diharapkan tidak hanya memperindah kota, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Penulis: Andi Jumawi
Ketua PWI Soppeng
















