SORONG, INDEKS.co.id — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong 13 sekolah di Kota Sorong, Papua Barat Daya, untuk menerapkan budaya peduli lingkungan melalui Program Adiwiyata. Langkah ini menjadi bagian dari Gerakan Tobat Ekologis yang menitikberatkan pada pembentukan karakter generasi muda sekaligus membangun kesadaran menjaga kelestarian alam sejak dini.
Program tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional bertajuk “Mengawali Langkah Bersama untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan”yang diluncurkan bersama Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, pada Senin (12/10/2026).
Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Papua, Abdul Muin, menegaskan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah.
Menurutnya, kebiasaan mengurangi dan memilah sampah, menghemat penggunaan air dan energi, menjaga kebersihan, serta melakukan penghijauan merupakan langkah nyata dalam menanamkan tanggung jawab terhadap kelestarian alam kepada generasi muda.
“Perilaku sederhana seperti mengurangi dan memilah sampah, menghemat air dan energi, serta menjaga kebersihan dan penghijauan sekolah merupakan langkah nyata dalam membangun generasi yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam,” ujar Abdul Muin.
Dalam arahannya pada peluncuran gerakan nasional tersebut, Menteri LH/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menyampaikan bahwa sekitar 80 persen Generasi Z (Gen Z) dinilai telah memiliki kesadaran lingkungan yang baik.
Potensi tersebut, menurutnya, perlu didukung melalui pendidikan dan pembiasaan yang berkelanjutan agar kesadaran tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Melalui Gerakan Tobat Ekologis, KLH/BPLH berupaya memadukan kesadaran nurani, nilai-nilai etika, dan instrumen penegakan hukum untuk mendukung upaya pemulihan serta perlindungan lingkungan hidup.
Pendidikan di sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk menanamkan nilai moral dan membangun pemahaman tentang hubungan yang selaras antara manusia dan alam. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Gerakan ini dijadwalkan berlangsung selama 30 hari ke depan di Kota Sorong dan berbagai wilayah di Indonesia. Melalui pelibatan satuan pendidikan, KLH/BPLH berharap tercipta lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pelaksanaan program tersebut juga membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendidik, peserta didik, hingga masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar praktik pengelolaan sampah, penghematan sumber daya, dan penghijauan dapat diterapkan secara konsisten.
Peluncuran dan deklarasi bersama di Papua dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong, serta jajaran dinas lingkungan hidup kabupaten se-Provinsi Papua Barat Daya.
Turut hadir unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Dinas Pendidikan Kota Sorong, Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong, serta para kepala sekolah, guru, dan siswa tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Melalui Gerakan Tobat Ekologis dan Program Adiwiyata, pembentukan budaya peduli lingkungan diharapkan semakin mengakar di dunia pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut diwujudkan dalam perubahan perilaku yang terukur dan terus berlanjut, sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan generasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.(Tim)
Editor/Publizher : Andi Jumawi
















