Senin 12 Oktober 2026
MAKASSAR, INDEKS.co.id — Kota Makassar diselimuti kabut asap yang mengurangi jarak pandang dan membuat langit tampak putih serta redup. Kondisi ini diduga berkaitan dengan akumulasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik dari sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan maupun kiriman dari luar daerah.
Informasi yang dihimpun indeks.co.id menyebutkan, asap tersebut merupakan dampak kebakaran lahan di sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, antara lain Pangkep, Bantaeng, Pinrang, Enrekang, dan kawasan Malino.
Selain sumber lokal, asap dari kebakaran hutan dan lahan di luar Sulawesi Selatan, termasuk wilayah Kalimantan dan Papua, disebut turut berpotensi memengaruhi kondisi udara di Makassar. Pergerakan massa udara selama musim kemarau dapat membawa partikel asap ke wilayah lain, bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kualitas udara Makassar dilaporkan sempat mengalami penurunan. Berdasarkan informasi yang dikaitkan dengan pemantauan BMKG Wilayah IV Makassar dan Stasiun Klimatologi Maros, konsentrasi partikel halus PM2,5 sempat meningkat hingga kategori tidak sehat.
Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.
Kabut asap yang menyelimuti kota juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya pengguna jalan ketika jarak pandang menurun. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan perkembangan titik kebakaran menjadi penting untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila asap semakin pekat, menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan lainnya.
Di sisi lain, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas wilayah, mulai dari pemadaman titik api hingga pemantauan pergerakan asap. Informasi mengenai sumber asap, arah angin, dan kondisi kualitas udara perlu disampaikan secara berkala agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Fenomena kabut asap ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Asap dapat menyebar mengikuti kondisi atmosfer dan mengancam kesehatan masyarakat di wilayah yang jauh dari sumber api.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan informasi kualitas udara disampaikan secara terbuka dan mudah diakses. Langkah tersebut penting agar masyarakat Makassar tidak hanya mengetahui penyebab kabut asap, tetapi juga memahami tingkat risiko dan tindakan perlindungan yang perlu dilakukan.(Tim)
Editor/Publisher : Andi Jumawi
















