SOPPENG, INDEKS.co.id — Ada haru yang tak mudah disembunyikan ketika sebuah perjalanan panjang akhirnya sampai di titik yang selama ini dinantikan. Hal itu terlihat dari raut wajah Ketua Program Magister Manajemen Universitas Lamappapoleonro (UNIPOL) Soppeng, Dr. H. Nurmal Idrus, SE, MM, saat menyaksikan satu per satu mahasiswa Program Magister Manajemen dikukuhkan sebagai lulusan pada prosesi Wisuda Program Magister, Sarjana, dan Diploma Tiga UNIPOL, Rabu (30/9/2026).
Duduk di jajaran anggota senat universitas di Gedung Lamappapoleonro Convention Centre (LCC), Nurmal beberapa kali terlihat menunduk. Tatapannya tertuju ke podium, tempat 22 mahasiswa Program Magister Manajemen menerima pengukuhan gelar Magister Manajemen (MM) dari Rektor UNIPOL, Dr. Hj. Andi Adawiah, SE, MM.
Bagi Nurmal, momen tersebut bukan sekadar seremoni wisuda. Ada perjuangan panjang, kerja keras, harapan, dan tanggung jawab yang seolah terbayar ketika 22 mahasiswa itu resmi menyandang gelar magister. Mereka bukan hanya menjadi lulusan pertama Program Magister Manajemen UNIPOL, tetapi juga menorehkan sejarah baru bagi pendidikan tinggi di Kabupaten Soppeng.
Wisuda yang diikuti sebanyak 447 mahasiswa itu pun menjadi momentum bersejarah bagi UNIPOL.
Usai prosesi, Nurmal tak menampik bahwa dirinya diliputi perasaan haru sekaligus lega. Terlebih, keberhasilan melahirkan lulusan perdana tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah mampu mencetak sumber daya manusia pada jenjang pendidikan pascasarjana.
“Kita mendengar tadi Ibu Rektor menyampaikan bahwa ini sejarah baru, karena 22 alumni Magister Manajemen ini adalah yang pertama sebagai produk lokal perguruan tinggi Soppeng. Kami berkejaran dengan waktu untuk bisa mencetak alumni pertama ini, tentu dengan standar kualitas yang tidak bisa ditawar,” ujar Nurmal, Rabu.
Menurutnya, lahirnya 22 alumni perdana tersebut bukan semata-mata pencapaian Program Magister Manajemen. Lebih dari itu, capaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan UNIPOL dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai perguruan tinggi yang mampu melahirkan lulusan berkualitas dari daerah.
Di balik kebahagiaan itu, ada proses panjang yang tidak selalu mudah. Nurmal menyebut keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja bersama seluruh jajaran pengelola program, dosen, mahasiswa, hingga pimpinan universitas yang selama ini terus berupaya menjaga kualitas pendidikan.
Karena itu, ketika nama-nama mahasiswa pertama Program Magister Manajemen dipanggil dan dikukuhkan, suasana haru menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
“Hari ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang sebuah perjalanan yang akhirnya sampai di garis akhir,” menjadi gambaran suasana yang terasa dalam prosesi tersebut, imbuhnya.
Di tengah kebahagiaan itu, kabar mengenai predikat Unggul yang diberikan Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi Manajemen Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA) kepada Program Magister Manajemen UNIPOL turut menambah makna tersendiri.
Nurmal menyebut predikat tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan yang selama ini dikembangkan.
“Keluarnya akreditasi Unggul untuk MM Unipol adalah pengakuan atas kualitas program ini yang sudah setara dengan program serupa di perguruan tinggi besar di Indonesia. Akreditasi ini keluar saat wisuda akan digelar dan itu membuat kami sangat apresiatif,” katanya.
Bagi Nurmal, predikat Unggul bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, capaian tersebut menjadi tanggung jawab baru untuk terus menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kualitas lulusan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi di daerah.
Wisuda tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda akademik.
Bagi UNIPOL, khususnya Program Magister Manajemen, hari itu menjadi tonggak sejarah. Sebanyak 22 mahasiswa menjadi saksi sekaligus bagian dari lahirnya generasi pertama magister yang ditempa melalui program pascasarjana di Kabupaten Soppeng.
Mereka datang sebagai mahasiswa, menjalani proses panjang dengan segala tantangannya, lalu pulang membawa gelar yang sekaligus menjadi penanda sebuah pencapaian.
Dan bagi mereka yang berada di balik proses panjang itu, termasuk Nurmal Idrus, hari tersebut menyisakan satu perasaan yang mungkin sulit dirangkai dengan kata-kata: haru melihat perjuangan akhirnya berubah menjadi sejarah.(Tim)
Redaksi/Publisher: Andi Jumawi
















