JAKARTANasionalREDAKSI

Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota

108
×

Jejak Sejarah di Jantung Ibu Kota

Sebarkan artikel ini
Listen to this article

JAKARTA (INDEKS) – Di jantung ibu kota, Matraman Dalam dan Menteng yang berdiri sebagai dua ruang bertaut secara administratif lahir dari latar sejarah yang berbeda. Matraman Dalam RW 08 secara administratif berada di wilayah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Namun jika ditarik jauh ke belakang, kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang lebih tua dari wajah Menteng yang kini dikenal sebagai kawasan elite dan cagar budaya.

Nama Matraman diyakini berasal dari istilah “Mataraman”, merujuk pada pasukan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang menyerang Batavia pada 1628-1629. Saat itu Batavia berada di bawah kekuasaan VOC. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa pasukan Mataram membangun pos dan benteng pertahanan di wilayah sekitar tepian Sungai Ciliwung yang kala itu masih berupa rawa dan semak belukar. Meski serangan tersebut gagal menaklukkan Batavia, sebagian prajurit diyakini tidak kembali ke tanah Jawa. Mereka menetap, berbaur dengan penduduk lokal, dan membentuk komunitas yang kemudian hari menjadi bagian dari masyarakat Betawi dengan pengaruh budaya Jawa yang kental.

Tradisi lisan warga juga menyimpan kisah tentang seorang pangeran Mataram yang menancapkan tongkatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Palmeriam. Titik tersebut dipercaya menjadi asal-usul penamaan Matraman. Wilayah Matraman Dalam kerap dikaitkan dengan keberadaan masjid kecil di pinggir Ciliwung serta bangunan bergaya arsitektur Jawa bertiang besar yang pernah berdiri di sana.

Pada masa kolonial, bangunan tersebut disebut sempat difungsikan ulang oleh pemerintah Belanda. Kawasan ini pun berada dalam pusaran dinamika kekuasaan ketika Inggris mengambil alih Batavia pada awal abad ke-19 sebelum akhirnya kembali ke tangan Belanda.

Berbeda dengan Matraman yang tumbuh dari dinamika perlawanan dan komunitas organik, Menteng lahir dari gagasan perencanaan kota modern pada awal abad ke-20. Pada 1910-an, kawasan ini dirancang sebagai garden city pertama di Batavia oleh arsitek Belanda PAJ Moojen. Konsepnya mengikuti model kota taman Eropa dengan jalan-jalan melengkung, ruang terbuka hijau luas, dan kanal sebagai bagian dari tata lingkungan yang terencana. Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan properti NV de Bouwploeg, yang membangun hunian tropis elite bergaya Indische Empire dan Art Deco bagi pejabat kolonial serta kaum elite pribumi.

BACA JUGA  SDGs Desa dan ASEAN Village Network Dipuji Dalam Pertemuan Internasional

Nama “Menteng” sendiri diambil dari banyaknya pohon buah menteng yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Pada dekade 1920-an, kawasan ini dikenal sebagai Europese Buurt atau lingkungan Eropa karena dominasi rumah-rumah mewah yang dihuni pejabat kolonial. Penyempurnaan rancangan kawasan kemudian dilanjutkan oleh arsitek FJ Kubatz. Salah satu ikon pentingnya adalah Stadion Menteng yang dibangun pada 1921 sebagai fasilitas olahraga warga Eropa. Stadion tersebut kemudian dibongkar dan dialihfungsikan menjadi Taman Menteng pada 2007 sebagai ruang terbuka publik.

Menteng juga tercatat sebagai tempat tinggal masa kecil Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama, yang menetap di kawasan ini pada 1967–1971. Dalam berbagai kesempatan, ia mengenang suasana Menteng yang masih rindang dan asri, dengan kehidupan kampung kota yang akrab.

Dalam satu garis administratif yang sama, Matraman Dalam dan Menteng mencerminkan dua fase penting sejarah Jakarta: yang satu tumbuh dari semangat perlawanan abad ke-17, yang lain lahir dari visi tata kota kolonial awal abad ke-20.

Jika Menteng menjadi simbol perencanaan modern dan hunian elite, Matraman Dalam merepresentasikan denyut kampung kota dengan memori kolektif yang lebih tua. Keduanya memperlihatkan bagaimana Jakarta berkembang dari rawa dan kebun menjadi benteng pertahanan, lalu berubah menjadi kota taman modern yang kini menjadi pusat pemerintahan dan kehidupan metropolitan.

Sumber referensi penulisan ini antara lain Sejarah Nasional Indonesia Jilid III yang membahas ekspedisi Sultan Agung ke Batavia tahun 1628-1629, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680 karya Anthony Reid mengenai konteks politik dan militer Asia Tenggara abad ke-17, Sejarah Jakarta terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta kajian arsitektur tentang Menteng dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia dan arsip kolonial Hindia Belanda mengenai pengembangan kawasan oleh NV de Bouwploeg. (Tim)

BACA JUGA  Kunjungi Jalur Rempah Dunia, Wapres Bertolak ke Maluku Utara

Redaksi/Publisher : Andi Jumawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!