JAKARTANasionalREDAKSI

Ketika Kebersahajaan Lebih Tinggi dari Jabatan

124
×

Ketika Kebersahajaan Lebih Tinggi dari Jabatan

Sebarkan artikel ini
Listen to this article

JAKARTA (INDEKS) — Jakarta sore itu terasa berbeda. Di sebuah coffee resto legendaris kawasan Juanda, Jakarta Pusat—tempat yang telah berdiri sejak 1970—waktu seakan berjalan lebih pelan. Orang-orang datang dan pergi dengan penampilan sederhana, namun dari sorot mata dan gestur mereka, terpancar wibawa yang tak bisa dibuat-buat. Di tempat itulah, sebuah pertemuan kecil menghadirkan makna besar.

Saya, sebagai Ketua PWI Soppeng, Andi Jumawi, merasakan sendiri bagaimana kebesaran seseorang tak selalu ditentukan oleh pangkat atau gemerlap jabatan. Kadang ia justru lahir dari kesederhanaan, dari cara duduk yang bersahaja, dari sapaan hangat yang tulus tanpa jarak.

Hari Minggu, 15 Februari 2026, menjadi saksi ketika saya dipertemukan dengan dua putra terbaik Soppeng: Supriansa, mantan Anggota DPR RI dan Wakil Bupati Soppeng, serta H. Haeruddin, pengusaha sukses yang dikenal rendah hati.

Pertemuan itu bukan sekadar temu kangen atau perbincangan biasa. Ia adalah perjumpaan dengan nilai—tentang bagaimana menjadi besar tanpa kehilangan akar, tentang bagaimana tetap membumi meski pernah berdiri di panggung tinggi kekuasaan.

Saya melihat sendiri bagaimana keduanya duduk berdampingan, tanpa sekat, tanpa jarak. Tidak ada aura kesombongan, tidak ada bahasa tubuh yang meninggi. Yang ada hanya kehangatan. Mereka berbicara tentang kampung halaman, tentang orang-orang Soppeng, tentang harapan yang tak pernah padam untuk tanah yang membesarkan mereka.

Ada rasa bangga yang sulit saya sembunyikan. Bangga karena Soppeng melahirkan tokoh-tokoh yang bukan hanya sukses, tetapi juga tetap ingat sekampungnya. Mereka tidak membiarkan kampung halaman menjadi sekadar cerita masa lalu. Mereka hadir, peduli, dan suka menolong.

Di tengah hiruk pikuk ibu kota, saya justru menemukan kesejukan. Kesejukan itu bukan dari pendingin ruangan coffee resto tua tersebut, melainkan dari sikap dan kebersahajaan dua tokoh ini. Sederhana, namun penuh makna. Tenang, namun berpengaruh.

BACA JUGA  Pelaku Kekerasan Seks Terhadap Santriwati di Magelang Dituntut 13 Tahun Penjara

Pertemuan itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Namun bagi saya, itu adalah pengingat bahwa kebesaran sejati bukan tentang seberapa tinggi kita pernah berdiri, melainkan seberapa dalam kita tetap membumi.

Terima kasih, Pak Supriansa dan Daeng Aji Haeruddin. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, menyehatkan, dan melapangkan setiap langkah Anda berdua. Semoga keberkahan selalu menyertai, dan kesuksesan terus mengalir sebagaimana ketulusan yang tak pernah surut.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah jabatan, melainkan kebaikan.(Tim)

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!