SALAM REDAKSI

Salam Redaksi : Ketika Keterbukaan Dibungkus dengan Diam Seribu Bahasa

89
×

Salam Redaksi : Ketika Keterbukaan Dibungkus dengan Diam Seribu Bahasa

Sebarkan artikel ini
Listen to this article

Penulis : Andi Jumawi Ketua PWI Soppeng

SOPPENG, 29 Januari 2026 — Keterbukaan informasi kerap dipuja sebagai fondasi tata kelola yang baik. Ia hadir dalam regulasi, dikutip dalam sambutan, dan menjadi frasa wajib dalam setiap laporan kinerja. Namun di lapangan, keterbukaan sering kali berhenti pada tataran retorika—indah didengar, minim makna.

Publik sebenarnya tidak kekurangan janji. Yang langka justru penjelasan. Ketika pertanyaan diajukan, jawaban sering berputar-putar, menghindari inti, atau sekadar mengulang narasi normatif. Data penting dikemas selektif, sementara bagian yang krusial justru diselimuti keheningan. Di titik inilah keterbukaan berubah wajah: bukan transparansi, melainkan diplomasi diam.

Diam, dalam konteks kekuasaan, bukanlah sikap netral. Ia adalah pilihan. Pilihan untuk menunda, mengaburkan, atau berharap publik lelah menunggu. Dengan dalih menjaga stabilitas, masyarakat diajak memahami situasi tanpa diberi cukup informasi untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama keterbukaan. Istilah “on process” menjadi mantra sakti. “Masih berkoordinasi” dijadikan jawaban serba guna. Seolah waktu adalah solusi bagi semua pertanyaan, padahal yang dibutuhkan publik bukan jeda, melainkan kejelasan.

Keterbukaan sejati menuntut keberanian. Keberanian untuk menyampaikan fakta apa adanya, termasuk ketika fakta itu tidak menguntungkan. Ia menuntut kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan, bukan menutupinya dengan bahasa teknokratis yang sulit dipahami.

Demokrasi tidak runtuh karena kritik, tetapi justru melemah ketika kritik dibiarkan bergema tanpa jawaban. Ketika ruang dialog dipersempit oleh keengganan menjelaskan, kepercayaan publik perlahan terkikis—tanpa perlu skandal besar, tanpa perlu konflik terbuka.

Pada akhirnya, publik tidak menuntut segalanya berjalan sempurna. Yang diharapkan sederhana: keterbukaan yang sungguh-sungguh. Sebab di era informasi, diam bukan lagi simbol kebijaksanaan, melainkan pertanda bahwa transparansi hanya dipakai saat menguntungkan, dan disimpan rapi ketika mulai menyulitkan.(**)

BACA JUGA  Catatan Redaksi Indonesia Ekspress: Program Makan Bergizi Gratis, Investasi untuk Generasi Emas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DILARANG MENCOPY/PLAGIAT DAPAT DI PIDANA

error: Content is protected !!