Oleh: Andi Jumawi – Pemimpin Redaksi
SALAM REDAKSI
Tarik Nafas Dulu Sebelum di Baca, jangan lupa berdoa untuk kebaikan bersama
Ada tulisan yang baru-baru ini beredar, yang dikemas seolah kritik terhadap Pemerintah Kabupaten Soppeng. Sayangnya, yang tampil bukanlah kritik yang jernih, melainkan sebuah narasi yang tampak terburu-buru, tendensius, dan diarahkan secara personal kepada Bupati Suwardi Haseng dan Wakil Bupati Selle KS. Dalle.
Inilah yang membuat publik wajar bertanya:
Apakah penulis sungguh tidak memahami etika jurnalistik, atau justru sengaja memalingkan wajah dari kaidah yang seharusnya ia junjung?
Sebuah kritik seharusnya berangkat dari niat baik—meluruskan, bukan menjatuhkan; mengingatkan, bukan menyerang pribadi. Namun tulisan tersebut justru menunjukkan gejala berbeda. Kritik yang menyasar pemerintah tetapi tidak mengedepankan cover both sides pada akhirnya hanya berubah menjadi opini yang kehilangan pijakan faktual.
Padahal, Bupati Soppeng bukan figur yang menutup diri. Akses konfirmasi selalu terbuka. Mengabaikan langkah sederhana itu bukan hanya merusak kredibilitas tulisan, tetapi juga mengancam marwah profesi jurnalis. Bila ini dibiarkan, bukan tak mungkin tulisan seperti itu bisa berujung pada ranah hukum — bukan karena kritiknya, tetapi karena ketidakjujurannya dalam menyajikan informasi.
Sebagai putra daerah dan insan pers, saya merasa prihatin. Bukan karena kritiknya, melainkan karena cara menyampaikan kritik yang keliru. Jurnalisme seharusnya menjadi cahaya yang menerangi, bukan bara yang membakar tanpa arah. Mengkritik boleh, bahkan wajib, selama itu dilakukan dengan integritas dan kehati-hatian.
Namun yang kita lihat justru tulisan yang meminjam kisah lama, menggali kembali cerita politik yang usang untuk membumbui narasi. Itu bukan kritisisme; itu nostalgia yang dipaksakan.
Jurnalisme tidak boleh berubah menjadi panggung emosi atau tempat melampiaskan kekecewaan.
Lebih menyedihkan lagi bila seseorang mengaku jurnalis, tetapi tulisannya tidak menunjukkan jati diri seorang jurnalis. Ketika naskah berubah menjadi prasangka, ketika kritik berubah menjadi bisik-bisik warung kopi yang dibawa ke halaman media, saat itulah jurnalisme kehilangan martabatnya.
Tulisan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini ajakan untuk kembali menatap cermin. Sebelum kita menekan tombol “terbitkan”, mari bertanya pada diri sendiri:
Apakah tulisan ini membangun atau merusak?
Apakah ini kebenaran, atau hanya kesenangan pribadi?
Apakah ini kritik, atau sekadar amarah yang dibungkus kata-kata indah?
Jika kita mencintai Soppeng, jika kita bangga disebut wartawan, maka kita wajib menjaga akal sehat dan etika jurnalistik. Kritik itu penting, tetapi kritik tanpa nurani hanya menjadi suara bising yang merusak kepercayaan publik.
Mari menulis dengan hati.
Mari mengkritik dengan nalar.
Dan mari menjaga profesi ini dengan kehormatan.
Karena jurnalisme tanpa integritas hanyalah suara kosong—sebanyak apa pun ia diteriakkan.
Andi Jumawi
















